Perkembangan Bisnis Hotel Di Indonesia

KOMPAS.com
– Pandemi Covid-19 yang melanda mayapada selama dua perian ragil menyebabkan beberapa pergantian di berbagai sektor, pelecok satunya pelancongan. Perlintasan ini menyebabkan kronologi kecondongan di industri, termasuk perhotelan.

Pariwisata menjadi salah satu sektor nan n kepunyaan kontribusi besar di bumi, dengan komponen pentingnya, yaitu hotel dan restoran.

Selama pandemi, wisatawan menjadi lebih jimat-jimat kerjakan melanglang maupun berlibur ke daerah tidak, bakal menyingkir penyebaran virus.

Sehingga muncul beberapa tren maupun kecenderungan yang disukai wisatawan saat melakukan perjalanan selama pandemi, dan untuk perian-tahun mendatang.

Baca juga:

  • Jangan Pelecok, Ini Perbedaan Hotel dan Resort yang Susah Diketahui


  • 5 Hotel Unik dari Seluruh Dunia, Suka-suka nan Mirip Iglo dan Anjing





  • 5 Prinsip Upgrade Kamar Hotel di Indonesia dan Perkiraan Tarifnya



Riuk satunya menginap di akomodasi yang mengutamakan kebersihan dan teknologi baru tanpa senggolan.

Prediksi ini disampaikan oleh President and CEO of Archipelago International John Flood kerumahtanggaan webinar bertajuk “Indonesia’s Hotel & Tourism Outlook 2022 – Beyond” yang digelar oleh Archipelago International dan Perhimpunan Hotel dan Kafetaria Indonesia (PHRI), Kamis (24/2/2022).

Menurutnya, terdapat 10 mode baru industri perhotelan lega waktu 2022 (new hospitality industry trends 2022). Apa tetapi gaya-tren tersebut?

1. Memperalat teknologi plonco tanpa sentuhan

John mengatakan, salah suatu cara hotel dan bar menerapkan
physical distancing
namun tegar menyerahkan layanan maksimal adalah dengan menggunakan teknologi tanpa rabaan.

“Hotel-hotel berangkat memopulerkan
digital assistant technology
(pengapit digital teknologi) yang
touchless
(tanpa singgungan) bagi mengurangi kontak bodi antartamu mereka,” jelas dia.

Menurutnya, sebelum hawar, sebagian hotel juga telah memanfaatkan teknologi baru ini.

Misalnya, dengan Google Nest, minus harus menyentuh, peziarah dapat bersuara untuk mengontrolremote
AC, lampu, telpon, dan alarm.

Baca pun: Hati-hati, Siasat Kamar Hotel Hilang Bisa Kena Denda

Perkembangan Bisnis Hotel Di Indonesia
UNSPLASH/TONY YAKOVLENKO
Ilustrasi lorong hotel.

2. Memperalat aplikasi darismartphone
pribadi

Kemajuan digital dan fenomena pandemi marcapada menyebabkan wisatawan semakin mesti memperalatsmartphone
pribadi bakal melakukan apapun.

“Orang-orang doyan menggunakan perangkat pribadi mereka sesering mungkin,” ujarnya.

Saat ini, para petandang akan menjadi semakin nyaman menggunakansmartphone
mereka untuk mengakses anak kunci kamar, menempah menu di kafe hotel, mengakses hiburan, dan layanan lainnya sonder harus bersentuhan dengan benda lain.

Beberapa hotel juga mutakadim memiliki aplikasi istimewa layanan mereka untuk memudahkan tamu yang menginap.

Baca juga: Lever-hati Seandainya Dapat Kamar Hotel di Atas Keramik 4, Ini Sebabnya

3. Memindai kode QR

Ilustrasi pemindaian kode QR sertifikat CHSE.
Galangan. Kementerian Wisata dan Ekonomi Kreatif
Ilustrasi pemindaian kode QR arsip CHSE.

Seperti nan diketahui bersama, pemakaian kode QR (QR Code) mutakadim semakin banyak diterapkan di berbagai arena-kancah umum.

Dengan
scan
kode tertentu melampaui ponsel, wisatawan dapat memperoleh kemudahan lakukan beraneka rupa aktivitas.

Seperti memilih menu, mengamalkan pembayaran non -tunai, mengecek hasil tes PCR, dan menyambungkan koneksi WiFi.

Baca juga: Siapa yang Harus Diberi Uang lelah Saat Menginap di Hotel, Begini Aturannya

4. Menerapkan ruangan yang fleksibel dan multifungsi

Pada masa depan, menurut John, hotel-hotel akan mulai menerapkan ruangan multifungsi.

Artinya, ruangan-ruangan di hotel, contohnya lobi yang menjadi negeri awam dapat diubah menjadi tempat yang lebih tahu takdirnya furnitur dipindahkan. Situasi ini dilakukan misalnya dengan tujuan meninimalisasi hubungan akrab para pengunjung.

Perabotan di lobi hotel juga akan menjadi lebih ringan, mudah dipindahkan, atau dibentuk ulang sesuai dengan keadaan.

Meski diperkirakan baru akan muncul sekitar dua sampai tiga tahun ke depan, ia yakin sejumlah hotel sedang berupaya menerapkan tren ini.

Baca pun: Produk Paling Sering Tertinggal di Hotel, Pengisi Ki akal hingga Popi

5. Meningkatkan kebersihan

Saat ini, John mengatakan bahwa bilang hotel semakin meningkatkan standar kebersihan mereka akibat taun Covid-19.

“Tamu hotel sekarang berpikirnya adalah, ‘Kelihatannya tamu yang ada di kamar ini sebelum saya?’,” jelas dia.

Maka dari itu karena itu, bukti akan kebersihan, terutama di area kamar, menjadi salah satu nan terpenting. Desain perabotan hotel juga akan semakin dipilih, dengan maksud mudah-mudahan mudah dibersihkan.

Tidak hanya itu, kebersihan restoran hotel pun akan semakin diperhatikan. Menurutnya, wisatawan yunior merasa aman jika peralatan makan didisinfeksi sampai-sampai dahulu maupun dijaga maka itu staf hotel.

Baca juga: Kenapa Tidak Ada Lantai 13 di Hotel? Ini Penjelasan Lengkapnya

6. Mengutamakan keberlanjutan

Ilustrasi hotel karantina.
SHUTTERSTOCK/Kanyapak Lim
Ilustrasi hotel karantina.

Sebelum pandemi, banyak hotel berupaya cak bagi mengurangi jejak karbon ataupun emisi gas yang mereka hasilkan. Salah satunya dengan
solar water heater
(tenggarang air tenaga mentari).

Kecenderungan ini akan semakin meningkat ketika pandemi, terutama berbahagia penobatan para generasi Milenial dan Gen Z.

Banyak dari generasi mereka nan mengutamakan hotel dengan konsep berkelanjutan daripada hanya sekadar keglamoran.

Baca juga: Kenapa Tidak Ada Guling di Kamar Hotel, Ini Alasannya

7. Fasilitas olah tubuh di internal kamar (in-room fitness)

Menurut John, semakin banyak hotel yang menawarkan fasilitas olahraga alias kebugaran di kamar mereka.

“Ini merupakan sekuritas mulai sejak banyaknya
gym
yang ditutup alias makara cacat,” jelasnya.

Sehingga, bilang hotel mutakadim mulai menyediakan peralatan olahraga keteter, begitu juga
treadmill
atau alas yoga, dan tayangan video khusus olahraga di TV kamar.

Baca lagi: Kenapa Check In Hotel Palu 14.00 dan Check Out Martil 12.00, Ini Alasannya

8. Mengutamakan
wellness


Ilustrasi hotel.
SHUTTERSTOCK/Chinnapong
Ilustrasi hotel.

Sejak pandemi, masyarakat menjadi makin memprioritaskan kebugaran dan kedamaian (well-being).

Whatever you do to take care of yourself , your body, mind, or spirit, that’s wellness
(Apapun yang Engkau lakukan untuk merawat diri sendiri, tubuh, pikiran, atau jiwa Sira, itulah
wellness),” pembukaan John.

Oleh karena itu, kecondongan pemasaran hotel momen ini yakni yang mengutamakan kesentosaan termaktub kesehatan tubuh, manah, dan jiwa.

Baca juga: Langka Tidur Saat Menginap di Hotel? Pahami Alasan Ilmiah dan Solusinya

9. Kecenderungan
slow travel

Angka bepergian bermula wisatawan mengalami penghamburan, John menjelaskan, namun mereka akan mengutamakan pelawatan yang bertambah lambat dan santai.

Artinya, banyak dari wisatawan nan ingin menikmati suasana perjalanan nan relatif jauh dari gerombolan dan lain sibuk.

Banyak lagi yang memilih kecondongan
off the beaten path
alias berkunjung ke area pelancongan nan tidak plus dikenal banyak orang atau enggak tenar, seperti wisata-tamasya tunggul.

Sehingga, industri pariwisata bisa memperkenalkan daerah tertentu, misalnya yang masih musykil terekspos. Lalu, wisatawan dapat menikmati area baru tersebut dengan durasi bertambah lama dan menerimakan keuntungan nan lebih besar.

Baca kembali: Gaya Pariwisata pada Masa Macan Air, Ini Penjelasannya Menurut Feng Shui

Ilustrasi bekerja
XPS
Ilustrasi bekerja

10. Bekerja
remote
sambil liburan

Kecenderungan bontot, menurut John, adalah minat wisatawan yang tinggi akan
remote working
(bekerja jarak jauh di mana saja).

Dengan gaya ini, hotel-hotel bisa mempersiapkan paket pariwisata nan dapat menarung kebutuhan kerja serempak liburan untuk para tamu.

Source: https://travel.kompas.com/read/2022/02/25/190700827/10-tren-baru-industri-perhotelan-tahun-2022-?page=all

Originally posted 2022-08-24 03:41:58.